Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Adakah Seorang Muslimah Dibenarkan Bekerja Di Luar Rumah?

 Adakah seorang muslimah dibenarkan bekerja di luar rumah?

Adakah seorang muslimah dibenarkan bekerja di luar rumah? Jawapannya, semestinya dibolehkan bekerja asalkan syarat-syarat berikut dipenuhi.

Muslimah dibenarkan Bekerja Di Luar Rumah

Syarat Untuk Wanita Bekerja Di Luar Rumah

Pertama: Mendapatkan izin dari walinya.
Wali adalah kerabat seorang wanita yang mempunyai pertalian nasab (garis keturunan, seperti dalam Qs. An Nuur: 31), pertalian sababiyah (tali pernikahan, yaitu suami), pertalian ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan pakcik kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan pertalian pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai kuasa seperti hakim). Jika wanita tersebut sudah menikah, maka harus mendapat keizinan dari suaminya.

Kedua: Berpakaian sesuai syariat.
Syarat  pakaian syar’i iaitu menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan), tebal dan tidak tranparent, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok mata(yang menggoda), dan tidak memakai wewangian.

Ketiga: Bebas dari fitnah.
Yang dimaksudkan bebas dari fitnah adalah wanita tersebut sejak dia melangkahkan kaki keluar dari rumah sampai kembali semula ke rumah, terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya. Untuk menjaga hal-hal tersebut, Islam memerintahkan wanita yang keluar rumah untuk menghindari
  • Khalwat (berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya),
  • Ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita),
  • Menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan wajar, tidak berlenggak-lenggok).

Keempat: Adanya mahram ketika bermusafir.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda;
“Seorang wanita tidak boleh bermusafir kecuali bersama mahramnya.”
[HR. Bukhari dalan Shahihnya (no. 1862), Kitab “Jazaa-ush Shaid”, Bab “Hajjun Nisaa’”; Muslim (no. 1341).



Dalil-dalil

Di antara dalil yang membolehkan seorang muslimah dibenarkan bekerja di luar rumah, dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dia berkata;
“Dahulu, kami ikut bersama Nabi. Kami memberi minum dan mengobati yang terluka, serta memulangkan jasad (kaum muslimin) yang syahid ke Madinah.”

[Al-Bukhari dalam Shahihnya (no 2882), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Mudaawatun Nisaa’ al-Jarhaa fil Ghazwi”].


Dalil lainnya adalah, dari Anas, dia berkata;
“Dahulu, apabila Rasulullah pergi berperang, beliau membawa Ummu Sulaim dan beberapa orang wanita Anshar bersamanya. Mereka menuangkan air dan mengubati yang terluka.”
[Muslim, ash-Shahiih (no. 181), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Ghazwun Nisaa’ ma’ar Rijaal”].


Imam Nawawi menjelaskan hadis di atas, tentang dibolehkan wanita memberi bantuan perubatan hanya kepada mahram dan suami mereka saja. Adapun untuk orang lain, pengubatan mestilah dilakukan dengan tidak menyentuh kulit, kecuali pada bahagian yang diperlukankan saja.


Tetapi bagaimana pun
tentu lebih baik  jika wanita-wanita itu mahu dan boleh bersabar memilih untuk tetap tinggal di rumahnya. Sebab, banyak sekali kemuliaan menjadi seorang isteri yang bersiap sedia melayani suaminya. Bahkan menurut hadis riwayat Anas bin Malik, makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan umrah. Tidakkah para muslimah ingin agar Allah menilai ibadah atas apa yang dilakukan?


Kelebihan Seorang Ibu Mengandung Dan Menyusukan Anaknya

Seorang ibu melahirkan lalu ia meninggal adalah jihad seorang wanita. Rasulullah SAW bersabda;

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati kerana taun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati kerana ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati kerana tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.”
(HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Seorang wanita yang bangun pada malam hari untuk menyusui anaknya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan ia akan diberi pahala seperti pahala orang yang mengerjakan ibadah selama 12 tahun. Sebaliknya seorang wanita yang tidak mau menyusui anaknya kerana alasan yang tidak syar’i maka Allah akan mengazabnya di neraka kelak.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiba-tiba aku melihat wanita-wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mahu menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.”
(HR Al-Hakim) – Asy-Syaikh Muqbil rahimahullaah dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadis sahih dari Abu Umamah Al-Bahili”.

 

3 Comments
  1. puan pink 3 years ago
  2. RV Master 3 years ago
  3. Noriza Rahman 3 years ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.